Senin, 04 November 2013

Headset






Pagi itu, sekitar pukul 01.16 aku terbangun dari tidur. Setelah tidur sekitar jam 22.50 tadi malam dan terdapat pesan dari seorang teman di whatapp yang bertuliskan “iyaa, Ridho enggak tidur?”. Pesan itu baru aku balas setelah shalat shubuh yang saat itu aku lakukan sekiata jam 05.15. Selain pesan dari whatapp, terdapat beberapa notifikasi di hp ku yaitu di bbm dan twitter. Notifikasi di twitter menyampaikan bahwa aku mendapatkan follower baru..hehe.. Sebelum tidur, aku memang sempat berchatting dengan teman lewat bbm dan whatapp. Tapi bukan chatting yang aku lakukan sebelum tidur. Setelah makan nasi di warung seharga 4500 dengan lauk tempe, sosis, dan kacang, aku menonton video lentera indonesia tentang Indonesia mengajar yang aku download sekitar sebulan yang lalu.
            Video itu berisi seorang sarjana yang mengabdikan diri untuk mengajar disebuah desa kecil di daerah maluku. Dari banyak video lentera Indonesia yang aku tonton, baru ini aku melihat sarjana yang mengajar merupakan lulusan fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Rasa senang timbul saat melihat kakak tingkatku bisa mengabdi untuk memberi pendidikan disebuah desa pelosok yang jauh dari perkembangan teknologi. Aku pernah berniat untuk mengikuti program Indonesia mengajar. Tetapi aku ingin mencobanya dahulu pada tingkat yang lebih rendah yaitu IPB mengajar. Setelah menyaksikan beberapa video tentang Indonesia mengajar, hatiku terbesit tentang betapa tidak meratanya asumsi biaya pendidikan sebesar 20% dari biaya APBN. Rasa syukur selalu hinggap ketika melihat anak-anak dipedesaan yang masih menganggap laptop sebagai barang yang baru. Jangankan laptop, smartphone saja mungkin baru lihat. Seharusnya, perkembangan teknologi di Indonesia harus merata supaya masyarakat pedesaan pun dapat merasakan dampak teknologi yang mempermudah kegiatan manusia.
            Pagi itu setelah shalat subuh, tepatnya habis tilawah tetiba aku melihat sesuatu yang memunculkan ideku untuk berkarya. Tepat diatas kasur tidur dan sambil melihat video pertandingan bulu tangkis, seseorang mendengarkan volume dari laptop tersebut dengan memakai headset. Benda itu sering digunakan oleh banyak orang termasuk diriku. Namun belakangan ini aku sedikit sedih untuk berbicara tentang headset. Hal ini karena headsetku hilang entah kemana. Headset berwarna putih itu hilang sejak dua minggu yang lalu. Tapi aku beruntung karena aku masih memiliki headset yang aku dapatkan ketika rihlah LPQ dulu. Sejak pagi itu aku berpikir tentang dampak penggunaan headset yang berlebihan. Bagaimana dengan nasib telinga yang kita miliki jika harus mendengar suara dengan desibel yang tinggi? Apakah dia akan rusak atau bahkan tidak berfungsi lagi? Seberapa besarkah nilai desibel maksimal yang harus diterima oleh telinga kita saat mendengar suara dari gadget yang kita miliki secara terus menerus. Setahuku, banyak orang yang telinganya tidak berfungsi kembali saat mendengar suara denga desibel yang tinggi. Hal itu aku ketahui saat kuliah perbengkelan yang menceritakan dengan keselamatan kerja di perusahaan material besi. Sungguh miris memang jika indra pendengaran yang diberikan oleh Allah dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi dirusak oleh kelakuan kita sendiri. Namun anehnya, perilaku tersebut tidak disadari banyak orang sehingga mereka berpeluang besar merusakan pendengaran mereka dalam beberapa waktu yang akan datang. Aku selalu berdo’a supaya orang-orang menyadari tentang pentingnya menjaga batasan terhadap perkembangan teknologi ini..Aamiin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar