Pagi
itu, sekitar pukul 01.16 aku terbangun dari tidur. Setelah tidur sekitar jam
22.50 tadi malam dan terdapat pesan dari seorang teman di whatapp yang
bertuliskan “iyaa, Ridho enggak tidur?”. Pesan itu baru aku balas setelah
shalat shubuh yang saat itu aku lakukan sekiata jam 05.15. Selain pesan dari
whatapp, terdapat beberapa notifikasi di hp ku yaitu di bbm dan twitter.
Notifikasi di twitter menyampaikan bahwa aku mendapatkan follower baru..hehe..
Sebelum tidur, aku memang sempat berchatting dengan teman lewat bbm dan
whatapp. Tapi bukan chatting yang aku lakukan sebelum tidur. Setelah makan nasi
di warung seharga 4500 dengan lauk tempe, sosis, dan kacang, aku menonton video
lentera indonesia tentang Indonesia mengajar yang aku download sekitar sebulan
yang lalu.
Video itu berisi seorang sarjana
yang mengabdikan diri untuk mengajar disebuah desa kecil di daerah maluku. Dari
banyak video lentera Indonesia yang aku tonton, baru ini aku melihat sarjana
yang mengajar merupakan lulusan fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Rasa senang timbul saat melihat kakak tingkatku bisa mengabdi
untuk memberi pendidikan disebuah desa pelosok yang jauh dari perkembangan
teknologi. Aku pernah berniat untuk mengikuti program Indonesia mengajar. Tetapi
aku ingin mencobanya dahulu pada tingkat yang lebih rendah yaitu IPB mengajar.
Setelah menyaksikan beberapa video tentang Indonesia mengajar, hatiku terbesit
tentang betapa tidak meratanya asumsi biaya pendidikan sebesar 20% dari biaya
APBN. Rasa syukur selalu hinggap ketika melihat anak-anak dipedesaan yang masih
menganggap laptop sebagai barang yang baru. Jangankan laptop, smartphone saja
mungkin baru lihat. Seharusnya, perkembangan teknologi di Indonesia harus
merata supaya masyarakat pedesaan pun dapat merasakan dampak teknologi yang
mempermudah kegiatan manusia.
Pagi itu setelah shalat subuh,
tepatnya habis tilawah tetiba aku melihat sesuatu yang memunculkan ideku untuk
berkarya. Tepat diatas kasur tidur dan sambil melihat video pertandingan bulu tangkis,
seseorang mendengarkan volume dari laptop tersebut dengan memakai headset.
Benda itu sering digunakan oleh banyak orang termasuk diriku. Namun belakangan
ini aku sedikit sedih untuk berbicara tentang headset. Hal ini karena headsetku
hilang entah kemana. Headset berwarna putih itu hilang sejak dua minggu yang
lalu. Tapi aku beruntung karena aku masih memiliki headset yang aku dapatkan
ketika rihlah LPQ dulu. Sejak pagi itu aku berpikir tentang dampak penggunaan
headset yang berlebihan. Bagaimana dengan nasib telinga yang kita miliki jika
harus mendengar suara dengan desibel yang tinggi? Apakah dia akan rusak atau
bahkan tidak berfungsi lagi? Seberapa besarkah nilai desibel maksimal yang
harus diterima oleh telinga kita saat mendengar suara dari gadget yang kita
miliki secara terus menerus. Setahuku, banyak orang yang telinganya tidak
berfungsi kembali saat mendengar suara denga desibel yang tinggi. Hal itu aku
ketahui saat kuliah perbengkelan yang menceritakan dengan keselamatan kerja di
perusahaan material besi. Sungguh miris memang jika indra pendengaran yang
diberikan oleh Allah dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi dirusak oleh
kelakuan kita sendiri. Namun anehnya, perilaku tersebut tidak disadari banyak
orang sehingga mereka berpeluang besar merusakan pendengaran mereka dalam
beberapa waktu yang akan datang. Aku selalu berdo’a supaya orang-orang
menyadari tentang pentingnya menjaga batasan terhadap perkembangan teknologi
ini..Aamiin J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar