Sabtu, 02 November 2013

Rak Sepatu




 

Pagi ini aku akan melaksanakan ujian Pemtek(Pemrograman Teknik). Pemtek itu katanya sulit dan ternyata memang sulit sih. Rasanya belajar dengan SKS(Sistem Kerja Santai) tidak cukup ampuh untuk menguasai materi pemtek sesi UTS. Baik materi ketika kuliah maupun praktikum itu sulit dipahami dalam waktu semalam. Mulai dari kata pseudocode sampai record bermunculan di lebar soal. Ujian ini dibagi menjadi tiga bagian yang menjawabnya dengan beragam variasi jawaban. Waktu 120 menit yang diberikan untuk mengerjakan soal itu tidak cukup. Aku sepertinya tidak bisa mengerjakan soal ini meskipun diberi waktu tambahan seperti halnya waktu tambahan saat injury time pada sepakbola hehe #Efek keseringan Nonton Bola
Setelah ujian itu selesai, aku bergegeas menuju ke mushala Alfath(Mushala paling dekat dari fakultasku) untuk shalat ashar. Pada kesempatan itu, aku yang menjadi imam. Dengan berpakaian seperti ustadz kondang dengan pin yang menggantung didada sebelah kiri aku memimpin pelaksanaan shalat. Seperti biasa, setelah shalat aku berpindah posisi ke belakang dekat dinding sebelah kiri belakang untuk bersandar. Dalam sandaran itu, aku sambil berdiskusi dengan teman tentang rencana olahraga bareng. Sambil bermain laptop dan sesekali melihat sesuatu yang menarik di handphone aku menyimak diskusi teman-temanku. Diskusi yang berjalan dengan penuh canda itu berlangsung kurang dari 1 jam. Setelah berdiskusi, aku kembali mengendarai sepedaku untuk membeli makanan. Sesampainya ditempat makan, tenyata diwarung nasinya mati lampu, bukan hanya lampunya sih, tetapi listriknya juga hehe....
Bukan tentang pemtek maupun tentang diskusi dengan teman yang menyita perhatianku hari ini. Bukan tentang lampu mati maupun listrik yang mati. Hal yang terniang dalam ingatanku untuk menulis tulisan hari ini yaitu tentang rak sepatu yang ada di kampus. Hari ini aku menjumpai dua rak sepatu yaitu ketika ingin shalat di mushala dan saat masuk ke dalam gedung yang katanya tempat kumpul para aktivis hahaha. Setahuku, rak sepatu itu dibuat oleh pabrik dan dibeli oleh kampus ini untuk meletakkan sepatu dengan rapi. Namun itu belum sepenuhnya disadari oleh mahasiswa. Rak sepatu hanya nampak sebagai penghias ketika tempat itu didatangi oleh orang yang belum paham tentang fungsi rak sepatu. Kata orang-orang, segala sesuatu itu buth proses termasuk mengerti tentang fungsi rak sepatu. Tetapi butuh waktu berapa lama untuk menyadari arti dari rak sepatu. Apakah ketika sudah bergelar sarjana ataupun ketika sudah memenangi banyak perlombaan? Bahkan kaum intelek pun terkadang belum paham tentang tempat yang digunakan untuk meletakkan sepatu itu. Mungkin butuh mata kuliah tentang penggunaan sepatu agar mahasiswa disini paham tentang fungsi rak sepatu. Berapa SKS yaa? Hehe #abaikan
Atas kejadian itu, timbul sebuah pikiran tentang kondisi bangsa ini. Pantesan saja negeri ini belum dapat maju. Mungkin belum siap ataupun belum mau untuk menjadi negara yang memiliki karakter bangsa luar biasa. Namun aku selalu berdo’a supaya bangsa yang membuatku bangsa tinggal disini, bangsa yang dihuni oleh orang-orang yang aku cintai dapat menjadi negara berkarakter paling baik di dunia. Itu harapanku...Semoga Allah memberikan kesempatan bangsa ini untuk bisa berubah...Aamiin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar