Pagi ini aku akan melaksanakan
ujian Pemtek(Pemrograman Teknik). Pemtek itu katanya sulit dan
ternyata memang sulit sih. Rasanya belajar dengan SKS(Sistem Kerja Santai) tidak
cukup ampuh untuk menguasai materi pemtek sesi UTS. Baik materi ketika kuliah
maupun praktikum itu sulit dipahami dalam waktu semalam. Mulai dari kata
pseudocode sampai record bermunculan di lebar soal. Ujian ini dibagi menjadi
tiga bagian yang menjawabnya dengan beragam variasi jawaban. Waktu 120 menit yang
diberikan untuk mengerjakan soal itu tidak cukup. Aku sepertinya tidak bisa
mengerjakan soal ini meskipun diberi waktu tambahan seperti halnya waktu
tambahan saat injury time pada sepakbola hehe #Efek keseringan Nonton Bola
Setelah ujian itu selesai, aku
bergegeas menuju ke mushala Alfath(Mushala paling dekat dari fakultasku) untuk
shalat ashar. Pada kesempatan itu, aku yang menjadi imam. Dengan berpakaian
seperti ustadz kondang dengan pin yang menggantung didada sebelah kiri aku
memimpin pelaksanaan shalat. Seperti biasa, setelah shalat aku berpindah posisi
ke belakang dekat dinding sebelah kiri belakang untuk bersandar. Dalam sandaran
itu, aku sambil berdiskusi dengan teman tentang rencana olahraga bareng. Sambil
bermain laptop dan sesekali melihat sesuatu yang menarik di handphone aku
menyimak diskusi teman-temanku. Diskusi yang berjalan dengan penuh canda itu
berlangsung kurang dari 1 jam. Setelah berdiskusi, aku kembali mengendarai
sepedaku untuk membeli makanan. Sesampainya ditempat makan, tenyata diwarung
nasinya mati lampu, bukan hanya lampunya sih, tetapi listriknya juga hehe....
Bukan tentang pemtek maupun tentang
diskusi dengan teman yang menyita perhatianku hari ini. Bukan tentang lampu
mati maupun listrik yang mati. Hal yang terniang dalam ingatanku untuk menulis
tulisan hari ini yaitu tentang rak sepatu yang ada di kampus. Hari ini aku
menjumpai dua rak sepatu yaitu ketika ingin shalat di mushala dan saat masuk ke
dalam gedung yang katanya tempat kumpul para aktivis hahaha. Setahuku, rak
sepatu itu dibuat oleh pabrik dan dibeli oleh kampus ini untuk meletakkan
sepatu dengan rapi. Namun itu belum sepenuhnya disadari oleh mahasiswa. Rak
sepatu hanya nampak sebagai penghias ketika tempat itu didatangi oleh orang
yang belum paham tentang fungsi rak sepatu. Kata orang-orang, segala sesuatu
itu buth proses termasuk mengerti tentang fungsi rak sepatu. Tetapi butuh waktu
berapa lama untuk menyadari arti dari rak sepatu. Apakah ketika sudah bergelar
sarjana ataupun ketika sudah memenangi banyak perlombaan? Bahkan kaum intelek
pun terkadang belum paham tentang tempat yang digunakan untuk meletakkan sepatu
itu. Mungkin butuh mata kuliah tentang penggunaan sepatu agar mahasiswa disini
paham tentang fungsi rak sepatu. Berapa SKS yaa? Hehe #abaikan
Atas
kejadian itu, timbul sebuah pikiran tentang kondisi bangsa ini. Pantesan saja
negeri ini belum dapat maju. Mungkin belum siap ataupun belum mau untuk menjadi
negara yang memiliki karakter bangsa luar biasa. Namun aku selalu berdo’a
supaya bangsa yang membuatku bangsa tinggal disini, bangsa yang dihuni oleh
orang-orang yang aku cintai dapat menjadi negara berkarakter paling baik di
dunia. Itu harapanku...Semoga Allah memberikan kesempatan bangsa ini untuk bisa
berubah...Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar