Minggu, 23 Maret 2014

Indonesia Milikku, Bukan Milikmu






            Teng, teng, teng, Lonceng sekolah berbunyi tiga kali. Bunyi lonceng yang terbuat dari velg ban truk pengangkut barang memang terdengar asing ditelingaku. Bunyi lonceng yang tidak sekeren lonceng masa kini itu merupakan menandakan awal perjalananku. Ya, itu adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar. Sekolah yang berada didaerah pelosok namun tidak jauh dari keramaian warga. Hampir setiap pagi kecuali hari libur, aku selalu mendengar bunyi lonceng itu. Bahkan, saat kelas dua, bunyi lonceng itu terdengar begitu keras. Hal itu karena kelasku yang terletak sangat dekat letak lonceng.
            Cerita lonceng dari velg truk pengangkut barang itu mengajariku tentang betapa kayanya negeri ini. Aku kira disekolah hanya belajar berhitung, membaca, dan menulis. Namun dugaanku salah besar ketika aku tamat dari sekolah dasar itu. Aku baru sadar ternyata pelajaran yang diajarkan di sekolah itu terselip ilmu yang sulit diterima oleh banyak orang. Ilmu mencintai Indonesia kuberi namanya. Ilmu itu tidak akan pernah muncul di ujian semester maupun ujian nasional. Mungkin hal itu yang mebuat orang lain beranggapan bahwa ilmu itu tidak penting.
            Ilmu mencintai Indonesia tidak pernah muncul di pelajaran matematika maupun IPA sekolah dasar. Namun ilmu itu muncul ketika aku dan warga sekolah lainnya mengikuti prosesi upacara bendera. Dalam prosesi itu, kita (aku dan warga sekolah) dituntut untuk menghargai betapa sulitnya pahlawan nasional melakukan upacara bendera. Salah satu sikap menghargai itu dapat dilakukan dengan menghapal lagu wajib nasional.
            Lagu wajib nasional di sekolah dasar  memang hanya dinyanyikan pada saat upacara bendera dan pelajaran kesenian. Namun aku baru sadar arti sebuah lagu wajib nasional itu ketika 2 tahun tidak pernah ikut upacara disekolah. Lagu itu memiliki filosofi yang dalam menurutku dan menurut para pahlawan. Lagu itu menggambarkan kisah para pahlawan dalam mengusir para penjajah negeri ini. Selain itu, lagu wajib nasional menyadarkanku untuk selalu mencintai dan mengabdi pada negeri ini. Setelah kesadaran itu muncul, aku selalu terpatri dan terketuk hati untuk mendalami arti dari lagu wajib nasional.
            6(enam) tahun sudah aku menimba ilmu di sekolah dasar dengan bunyi lonceng yang akrab ku dengar setiap pagi disekolah. Akan tetapi, untuk meningkatkan level ke-Indonesia-anku tidak hanya terbatas pada lagu wajib nasional. Beranjak masa putih-biru, level itu meningkat sejalan dengan lebih mendalamnya ilmu mencintai Indonesia yang kudapat. Pada tingkat sekolah ini, aku diajari bagaimana memahami nilai budaya yang dimiliki bangsa ini. Memang sih ilmu itu terselip di pelajaran kesenian dan sejarah, tetapi hanya segelintir orang yang memahami ilmu mencintai Indonesia itu.
            “Aku sangat bangga kawan dapat belajar budaya Indonesia di sekolah ini” ujarku pada teman sebangku. “Mengapa kau begitu bangga? menurutku biasa saja”balasnya dengan nada rendah.”Kau akan mengalami kebanggaan sepertiku jika kau telah menyadarinya” Jawabku menutup perbincangan sebelum pelajaran kesenian dimulai.
            Menghapal lagu wajib nasional dan mengenal budaya Indonesia merupakan segelintir ilmu mencintai Indonesia yang aku dapat di masa SMP. Lebih dari itu, banyak lagi ilmu mencintai Indonesia yang akan kudapat kelak, bahkan sampai ku menutup usia nanti.
            Sekolah di pelosok membuatku tertinggal dengan kemajuan teknologi. Itulah alasan mengapa aku memilih untuk melanjutkan pendidikan di kota. SMA di daerah ku memang tidak secanggih dan serba teknologi seperti yang ada dikota. Jadi, ketika aku berada di salah satu sekolah favorit di kota yang letaknya 4 jam dari rumahku, aku terdiam. Pertama kali aku menapakkan kaki ditempat ini setelah melalui proses yang begitu panjang, aku termenung sejenak. Dengan cara apa aku bisa mendapatkan ilmu mencintai Indonesia di sekolah ini? Apakah dengan belajar ilmu kesenian dan ilmu sejarah juga? Tentu tidak pikirku. Apa bedanya ketika berada di desa jika hanya dengan cara itu aku dapat ilmu mencintai Indonesia? .
            Sekolah di kota membuat perbedaan dalam pola pikirku. Dengan teknologi informasi yang serba canggih serta teman yang lebih berwawasan luas, aku mendapatkan banyak cara untuk mempelajari ilmu mencintai Indonesia. Sekolah yang terfasilitasi ruang komputer tersambung internet, disinilah aku mulai mengenal dunia internet. Dunia yang bisa mendekatkan segala informasi yang letaknya sangat jauh sekalipun.
            Selama satu semester, aku masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang sangat berbeda dengan sekolah didesa. Selama itu pula aku belum mendapatkan ilmu mencintai Indonesia yang aku harapakan. Akhirnya di semester kedua, aku mendapatkan titik terang. Lelaki tua bergelar S.pd bernama pairin telah menunjukkannya titik terang itu.
Suatu sore, aku yang masih sibuk belajar di depan kelas ketika jam sekolah telah berakhir, tiba-tiba aku dihampiri oleh lelaki tua itu. Rupanya dia diam-diam mengamatiku sejak lama dan menganggapku anak yang punya kreativitas yang tinggi. “kok kamu belum pulang nak? Jam sekolah kan sudah berakhir dari tadi” Tanya lelaki tua itu. “Ini pak, ada tugas yang harus aku selesaikan” jawabku sambil menunjuk buku yang aku kerjakan.”Bagus…Semangat ya nak” tungkasnya menyamangatiku. ”Siap pak..” balasku sambil tersenyum
Keesokkan harinya, aku bertemu kembali dengan lelaki itu ketika makan siang di kantin sekolah. Kebetulan aku berada tepat dihadapan lelaki itu ketika makan. Makan sambil mengobrol santai, itulah yang terjadi saat itu. Akan tetapi, dalam obrolan itu terselip sebuah ajakannya kepada untuk mengikuti sebuah perlombaan. Perlombaan yang diadakan dipulau seberang, tempat yang pernah aku singgahi sebelumnya. Perlombaan itu berupa lomba karya tulis antar siswa SMA se-Indonesia. Mendengar hal itu, tanpa pikir panjang aku pun menerima ajakan lelaki tua itu.
Setelah pertemuan itu, setiap jam istirahat aku sempatkan diri untuk bertemu lelaki itu untuk membicarakan lomba yang akan diikuti. Bersama dua siswa lainnya, aku tergabung dalam tim yang akan mewakili sekolah dalam kompetisi itu. Beberapa minggu telah dilalui untuk mempersiapkan lomba itu dan tiba saatnya perlombaan itu dimulai.
Malam hari sebelum keberangkatan keesokkanya, aku termenung sambil bersyukur atas apa yang aku dapatkan saat ini. Pikiranku terpenuhi oleh perjalanan esok hari untuk pergi ke pulau seberang. Hal ini merupakan hal yang menakjubkan bagiku. Dalam pikiranku terlintas bahwa untuk mencintai Indonesia, tidak hanya diperlukan bekal pengetahuan, tetapi harus menjelajahinya. Sejak itu, prinsip untuk menjelahi Indonesia selalu terisi dalam bongkahan semangatku setiap hari.
Hari demi hari kulalui dengan prinsip itu. Terlebih saat aku telah pulang dari pulau seberang dengan membawa trofi kemenangan yang mengharumkan nama sekolahku. Kemenangan itu telah merubah semangat biasa menjadi semangat Indonesia. Setiap ada lomba yang diadakan di berbagai nusantara, aku coba untuk ikuti. Kreativitas telah membuatku untuk memunculkan ide brilian yang kutuangkan dalam sebuah karya tulis.
Selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMA, aku menjadi salah satu siswa yang terkenal karena sering memenangkan berbagai kompetisi. Mulai dari ujung Sumatra sampai pulau papua telah aku singgahi ketika mengikuti kompetisi. Berbagai trofi atas peranku telah banyak memenuhi lemari trofi di sekolah.
Namun bukanlah sebuah trofi ataupun kegaguman orang lain terhadapku yang aku pikirkan. Lebih itu, sebuah prinsip menjelahi Indonesia telah sangat meningkatkan level ke-Indonesia-anku.  Level ini tidak akan berada ditahap ini jika aku tidak memilih untuk menelusuri dunia perantauan. Selain itu, berkat pertemuan dengan lelaki tua itu dikantin sekolah telah memunculkan prinsip menjelahi Indonesia.
Pola pikir untuk menjelahi Indonesia membawaku untuk melanjutkan pendidikan yang ada di pulau seberang. Aku menempuh pendidikan kuliah di sebuah tempat dimana pertama kali aku memenangkan trofi ketika aku duduk dibangku SMA. Meskipun tidak mudah bagiku untuk kuliah ditempat itu karena orang tuaku tidak mengizinkanku untuk kuliah terlalu jauh. Namun setelah aku memberi alasan yang meyakinkan, akhirnya orang tuaku merelakan perjalanan pendidikanku ke pulau seberang.
Ketika masuk di universitas tersebut, aku bisa berteman dengan orang dari berbagai pelosok nusantara. Mulai Sumatra, jawa, bali, Kalimantan, Sulawesi, dan papua semuanya tertampung disini. Bahkan aku sempat berpendapat bahwa tempat ini merupakan Indonesia mini karena orang-orang dari penjuru nusantara ada disini. Disini, Aku memiliki teman dekat yang berasal dari daerah Sulawesi dan bali. Aku dan dua temanku pun saling bertukar cerita tentang daerah masing-masing. Dari perbicangan itu, level ke-Indonesia-anku kembali naik meskipun hanya sedikit.
Kreativitas yang aku tanam sejak SMA tertular sampai perguruan tinggi. Akan tetapi, bukan melalui karya tulis maupun prestasi akademik. Kreativitas tertanam dibenakku yaitu dengan menjelajahi Indonesia lebih dari biasa. Kreativitas itu membuatku bergabung disebuah klub mapala (mahasiswa pencinta alam). Aku tidak peduli seberapa jelek anggapan orang lain tentang mapala. Tujuanku untuk masuk klub tersebut hanya satu, yaitu mendapat Ilmu mencintai Indonesia dengan prinsip menjelajahinya.
Selama dunia perkuliahan, aku telah banyak menelusuri alam Indonesia yang sesungguhnya. Alam yang membuat bangsa lain sangat iri akan keindahan alam ini. Alam yang sangat berpengaruh besar terhadap kondisi dibumi ini. Alam yang tidak didesain dengan teknologi canggih seperti yang ada di Negara tetangga. Alam yang banyak orang Indonesia ingin tahu tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara untuk mengetahuinya. Alam dengan tanah yang subur serta kekayaan fauna dan flora yang beraneka ragam. Alam yang mulai dari dataran tertinggi sampai laut terdalamnya memberi nuansa yang luar biasa. Alam yang dapat meningkatkan level ke-Indonesia-anku sampai batas maksimal.
Setelah menelusuri keindahan alam itu, aku menyadari betapa tidak bersyukurnya segelintir orang yang rela meninggalkan negeri ini karena ingin hidup enak di negeri orang. Aku menyadari bahwa negeri ini diisi oleh segelintir manusia yang hanya kagum dengan adanya salju dinegeri seberang tanpa mengagumi istimewanya bumi pertiwi ini. Aku pun tidak memaksakan bahwa pemerintah dengan kesibukannya harus menjelajahi bangsa ini. Hanya satu harapanku terhadap pemerintah, jangan kau jual keindahan nusantara ini dengan dengan iming-iming yang masih bisa dihitung nilainya.
Aku pun bersyukur kepada sang maha pencipta yang telah menciptakan negeri ini berbeda dengan lain. Aku bersyukur telah disadarkan untuk menjadi anak rantau agar dapat mendapatkan ilmu mencintia Indonesia yang maksimal. Aku juga sangat bersyukur telah diarahkan ke jalan yang tepat untuk mendapatkan level ke-Indonesia-an yang maksimal.

Inilah caraku untuk mempelajari ilmu mencintai Indonesia. Aku sangat bersyukur, bahkan kesyukuranku yang tidak dapat kudefinisi. Mulai dari keindahan eksotik yang berada di pulau komodo sampai dengan daratan tertinggi dipulau jawa yaitu mahameru telah aku nikmati. Keindahan eksotik yang tidak semua orang Indonesia dapat merasakannya. Keindahan alam bawah laut yang terpancar dari keanekaragam hayati bawah laut yang sangat beragam. Panorama samudra di atas awan pun tidak luput dalam perjalananku untuk meningkatkan level ke-Indonesia-an. Hanya satu pesanku buat pemilik KTP Indonesia, “Sadarlah wahai saudara setanah air, bahwa Indonesia sangatn indah untuk kau nikmati langsung tanpa harus memikirkan keindahan salju dari Negara lain”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar